Senin, 16 Mei 2016

Puisi "Suatu Pagi Didesaku"


Diseberang pelataran
Kau berdiri angkuh
Tanganmu mengepal nasib
Hampir tak ada senyum dan lagu
Apalagi puisi itu 
Telah kau lempar dalam dalam
Hingga tangisan yg biasa merdu
Kini terdengar seperti derit roda kereta yg lapuk.
Dan senyum kecut sisais.

Menarik beribu beban sayuran .
Kotoran kuda
Kita adalah sama.
Diantara derap langkahnya.
Aku dan gilaku adalah satu.
Tak beda.Kau dan angkuhmu.Tak lain

"Meski aku masih dibalut sangsi.
Diapit Riuh derapmu hentakkan pagi
Sumbu yg pudar
Nyala pelita jiwa tercemar
Malamku robek misteri.
Kupagut kau dalam sunyi
Sedangkan angkuhmu kugauli
Basah lidahku mengecup manismu
Tak sabar ingin kutuntaskan nikmatku
Dan yang kutau
Begitu indahnya rupamu.
Seperti sunyi yg kupuja
Atau puisi yg kueja.

8 aoril 2016.

Puisi "Lelaki Harus Berlayar"



Mencemooh gelombang dan badai.
Menerkam angin dan menggilas desiran.
Hingga kau tau makna sebuah kerinduan.

Bukan pada tiap bait puisi yg  jalang.
Atau rima yg perlahan memudar.
Karena perahu tak jua sampai.
Titik embun terbakar pagi.
Lalu hilang terserap sepi.

Lelaki harus berlayar.
Tak peduli jiwa terbakar.
Pada anggurmu yg kerap tertebar.

Bukan seperti waktu yg berlari.
Menebas ironi lalu mati.
Atau sebatas kenangan lalu.
Sebentar kau buang kala layu.

Lelaki harus tahu diri.
Merapal mantra diatas puisi.
Bukan basa basi.
Menerobos ilalang pagar suci.
Lelaki harus terus berlayar.
Arungi setiap aral.
Meski perih dalam sesat terjal.


Balikpapan 15052016



Kamis, 30 Desember 2010

R I N D U

Jemari malam mencengkram menusuk aliran darah hingga nadiku.
Separoh puisi yang belum sempurna.

Kuhirup dalam dalam secawan arak wangi beraroma asmara.

Nanar.

Pada matamu.
Pada bibirmu.
Pada lembutmu.

Minggu, 12 Desember 2010

Usai

Perlahan kutancapkan melati diruang kasihmu yg wangi.
Bukan airmata yg mengalir tapi kasih sayangmu yg melulukanku.

Janji telah kau tepati.
Ikrar telah kau penuhi.
Pergi bersama bidadari menuju kekasihmu.

Tinggalkan aku yg mendekap kenangan menulis cerita yg belum usai...

Melati buat Omah

Temanku sahabatku ibuku bahkan hidupku melarut ketika kekasihmu membawamu pergi kesana.
Ketempat berkumpulnya semua roh kekasih NYA.
Tertegun menatap matamu yg masih memancarkan kasihmu padaku.
Janji telah kau penuhi padaNYA.
Dengan senyum kebahagiaan menghias di bibirmu.

Melati ini untukmu Omah.
Biar tercium wanginya di ruang kasihmu.
Karena hanya itu yg bisa ku tancapkan di tegaknya senja.
Bersama munajat kehadhiratNYA.

Senin, 29 November 2010

Dan akupun cinta.

Tahukah kamu akan perasaanku saat ini.
Rindu yg teramat rindu hingga melebihi kerinduan seorang musafir kehausan dipadang pasir akan sumber air.
Tapi aku bertahan dg segala kelemahanku.
Bila kau dapati aku dalam kerapuhan.
Itulah saatnya aku harus melewati batas janji yg kubuat dgn nya.
Cinta telah kuukir di nisan pusara hatiku.
Dijiwaku ada rasa.
Rasa yg mgkin bisa kau nikmati dalam untaian syair di kehidupan.
Jika rasaku ini berpadu dg rasamu.
Dan akupun cinta.

Jumat, 26 November 2010

ga penting

akhirnya titik jenuh itu mulai menghampiri.
Mencoba membelunggu kebebasanku.
Dari kejujuran yg kucoba perlihatkan.
Masih ada yg mengurai kepalsuan padaku.
Aku mulai bosan dg kepalsuanmu..
SEO Reports for lobbypuisi.blogspot.com